SMK Ma'arif Walisongo Kajoran Siap Juara 1 Lomba Web Design and Development Kabupaten Magelang 2017

SMK Ma'arif Walisongo Kajoran Siap Juara 1 Lomba Web Design and Development Kabupaten Magelang 2017

Foto Bersama : Para jawara foto bersama, Nafi Ali Alawi (kiri), Achmad Masduqi (tengah), Ilvan Ardiyanto (kanan)

Kartika News, Kajoran - Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Mata Lomba Web Design and Development telah sukses dilaksanakan SMK Ma'arif Walisongo Kajoran Magelang, Kamis (31/08). Kegiatan yang dimulai sejak hari Selasa 29 Agustus ini mempunyai tujuan pengembangan keterampilan siswa dalam bidang Web Design and Development.
Kegiatan ini adalah kegiatan tahunan yang secara konsisten diadakan oleh sekolah berbasis teknologi informatika asal sebuah daerah di lereng Gunung Sumbing ini (Magelang). Kompetisi berkelas yang diadakan oleh Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak  (RPL) SMK Ma'arif Walisongo Kajoran ini diikuti 14 siswa dari perwakilan kelas X, XI dan XII.
Orientasi Kegiatan
Kompetisi siswa tingkat sekolah ini salah satu orientasinya untuk menyiapkan peserta dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Kabupaten Magelang yang akan dilaksanakan pertengahan september mendatang. Menyiapkan diri menghadapi era ekonomi global baru-baru ini menjadi orientasi lain yang juga sangat penting untuk membentuk insan cerdas, siap berkarya dan siap kerja dalam bingkai smart, religious dan professional. LKS Web Design and Development tahun ini mengambil tema "Menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045".
Kejuaraan
Nafi Ali Alawi (XII RPL) meraih tropi juara pertama pada perlombaan, Ahmad Masduqi (XII RPL) meraih juara II dan tropi Juara III diraih oleh Ilvan Ardiyanto (X RPL).

Indonesia Butuh Istighotsah dan Mujahadah Bukan Teriakan Bid’ah

Indonesia Butuh Istighotsah dan Mujahadah Bukan Teriakan Bid’ah


  Dewasa ini seiring perkembangan teknologi informasi, aku sering mendengar ceramah ustadz dan tokoh petinggi Islam lain melalui siaran media sosial. Youtube misalnya, banyak sekali video ceramah ustadz baik yang mengandung makna ataupun tidak (provokatif atau cenderung ke hal-hal negatif). Seakan dakwah yang paling diminati adalah dakwah melalui video youtube. Tak jarang tokoh yang aku lihat, penyampaiannya sangat provokatif dan sering mengatakan bid’ah, kafir, musyrik kepada golongan lain yang berbeda baik dalam bidang amalan, aqidah, pemahaman, pemikiran dan lain sebagainya. Hal itulah yang menurutku sangat tidak berguna dan tidak bermanfaat. Terlebih umat beragama di Indonesia merupakan umat agama yang mampu berbaur dengan kebudayaan lokal asli indonesia.

  "Ini bid’ah..! itu Syirik..! kamu Kafir..! Jahanam..!" Kata yang tidak pantas untuk diucapkan seorang muslim, kecuali memang ada bukti yang haq, bukti yang mendasari bahwa orang atau golongan tersebut memang seperti yang ia katakan. Bid’ah merupakan sebutan bagi segala sesuatu yang berhubungan dengan agama, yang mana hal atau amalan tersebut tidak ada pada zaman Rosulullah SAW. "Kullu bid’atin dzolalah (semua bid’ah adalah sesat)" namun, pada makna lughot (kebahasaan) kullu dapat berartikan semua namun hanya sebagian saja. Sehingga para Ulama Ahlusunnah Wal Jamaah membagi bid’ah menjadi dua bagian. Yakni bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) misalnya bid’ah tahlilan, ziarah kubur, mujahadah, majelis dzikir, istighotsah dan amalan-amalan lain. Kemudian yang kedua, bid’ah dzolalah (bid’ah yang salah) yakni semisal bid’ah yang dilakukan oleh golongan takfiri (salafy-wahabbi) membagi Tauhid menjadi tiga bagian (Uluhiyyah, Rubbubiyah, Asma wa sifat).

  Aku melihat, ada beberapa golongan Islam di Indonesia yang mengharamkan Istighosah, mujahadah, tahlil dan rangkaian kegiatan ruhaniyah dengan mengumpulkan banyak jamaah. Golongan tersebut selalu "nyinyir" terhadap segala amaliyah baik yang dilakukan oleh golongan Islam Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah. Istighosah misalnya, do’a untuk keselamatan bangsa. Kala itu, banyak orang yang menyebut bahwasanya amalan tersebut syirik dan bid’ah. "Tidak.!! Kami semua berdo’a kepada Tuhan (Allah SWT) supaya Indonesia diberikan perlindungan dari segala bentuk malapetaka dan marabahaya, selalu dicintai Allah, selalu menjadi negara damai yang menjunjung tinggi asas kemanusiaan secara haq. Lalu, kafir, syirik dan bid’ahnya dari mana?. Tidak ada yang menyembah yang lain selain Allah disini. Lalu, bid’ah dari mana?" pikirku kala itu.

  Mari sedikit flashback sejarah.

  Tahukah kamu? Indonesia merdeka tak luput dari ritual para Ulama besar yang mana ritual tersebut salah satunya adalah mujahadah, istighotsah, dzikir dan lain-lain. Ritual ini berisikan do’a-do’a yang dipanjatkan hanya kepada Allah SWT. Allah berfirman "Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu”(QS. Al-Mukmin : 60). Maka, jika ada seseorang yang tidak mau berdo’a kepada Allah SWT, orang tersebut tergolong orang yang sombong terhadap Allah. "Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarah kesombongan dalam hatinya" (Hadis Riwayat Muslim dari Abdullah bin Mas’ud RA").

  Hingga saat ini, Indonesia sangat membutuhkan ritual (amaliyah) keagamaan seperti majelis dzikir, Istighotsah, Mujahadah, dan lain sebagainya supaya memperkokoh pondasi benteng bangsa Indonesia. Sehigga, Indonesia tidak mudah diserang, diadu domba, bahkan ditaklukkan oleh bangsa lain.

  Adanya bangsa Indonesia, pedoman empat pilar bernegara dan lain sebagainya juga tidaklah luput dari amaliyah dzikir, mujahadah dan istighotsah para Ulama zaman perjuangan dengan istiqomah. Sampai Indonesia seperti yang kita rasakan saat ini, semua itu tidak lepas dari ritual amaliyah mujahadah, istighotsah, dan lain sebagainya. Sehingga, jika dikata itu merupakan hal yang bid’ah, syirik, kafir, tentu Ulama zaman dahulu akan lebih mengerti dan lebih faham. Sebab keilmuan Ulama zaman dahulu sangat tinggi. Dapat dilihat dari keistiqomahannya dan ketawadlu’annya.

  Dari dulu hingga sekarang dan sampai kapanpun juga, Indonesia sangat membutuhkan amaliyah mujahadah, istighotsah dan lainnya. Sebab, itulah yang diajarkan para Walisongo, Ulama besar zaman perjuangan, sesepuh Islam Nusantara zaman dahulu. Tanpa adanya amaliyah tersebut, entahlah aku tidak membayangkan apa yang akan terjadi kepada Indonesia. "Indonesia butuh istighotsah dan dzikir. Bukan teriakan bid’ah dan kafir !. Camkan itu !"


Vinanda Febriani. Borobudur, 25 Agustus 2017.

Pelantikan PC IPNU & IPPNU Kabupaten Magelang Masa Khidmat 2017 - 2019

Pelantikan PC IPNU & IPPNU Kabupaten Magelang Masa Khidmat 2017 - 2019

Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Magelang

  Kartika News - Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Magelang telah mengadakan Pelantikan dan Rapat Kerja Cabang pada sabtu (26/8) dan melibatkan lebih dari 300 peserta dari berbagai daerah di Kabupaten Magelang.

  Kegiatan yang mengusung tema "Pelajar Cerdas, Cintanya Berkualitas" itu bertujuan untuk melegalkan kepengurusan PC IPNU IPPNU Kabupaten Magelang yang telah terpilih melalui Konfercab yang diadakan di Kecamatan Kajoran pada bulan Januari lalu.

  Selain itu, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk merumuskan program kerja PC IPNU IPPNU Kabupaten Magelang masa khidmat 2017 - 2019.

  "Harapan saya, kami dapat menjalankan proker yang sudah sudah ditetapkan pada Rapat Kerja dengan istiqomah, produktif dan membuahkan hasil yang berkualitas." ujar Miftahul Mujib selaku peserta sekaligus Ketua Panitia.

  Acara tersebut dibuka dengan penampilan akustik dari Cakrawala Band, PAC IPNU Salaman, dan penampilan hadrah dari PAC IPNU Mertoyudan. Acara semakin memukau dengan tampilnya seni pencak silat dari MTs Al Huda Mertoyudan.

  Sayangnya, Bupati Kabupaten Magelang, Zainal Arifin tidak dapat hadir ke gedung PC IPNU IPPNU Kabupaten Magelang dikarenakan sesuatu yang tidak bisa Beliau tinggalkan.


Redaktur : Retno Sari