Konrad Zuse : Penemu Bahasa Pemrograman

Konrad Zuse : Penemu Bahasa Pemrograman

Konrad Zuse lahir di Berlin, 22 Juni 1910 – meninggal di Hünfeld, 18 Desember 1995 pada umur 85 tahun) adalah seorangteknisi sipil dan perintis komputer. Pencapaian terbesarnya adalah komputer penyempurna Turing fungsional pertama yang dikendalikan oleh programZ3 pada tahun 1941 (program tersebut disimpan di tape kertas). Ia menerima Werner-von-Siemens-Ring pada tahun 1964 untuk penemuan itu.
  Zuse juga merancang bahasa pemrograman tingkat tinggi pertama, Plankalkül. Plankalkül pertama kali diterbitkan pada tahun 1948. karena hanya teoretis, bahasa pemrograman itu tak diimplementasikan sepanjang hidupnya dan tak secara langsung memengaruhi bahasa pemrograman awal. Salah satu penemu ALGOL (Rutishauser) menulis: "Percobaan paling awal untuk menemukan bahasa algoritma dilakukan pada tahun 1948 oleh K. Zuse. Notasinya cukup umum, namun proposal tersebut tak pernah mencapai pertimbangan yang patut diterima."
  Di samping karya teknik, Zuse mendirikan salah satu bisnis komputer awal pada tahun 1946. Perusahaan ini membuat Z4, yang menjadi komputer komersial kedua yang disewa oleh ETH Zuerich pada tahun 1950. Namun, akibat Perang Dunia II, karya Zuse banyak yang tak tercatat di Amerika Serikat dan Britania Raya; kemungkinan pengaruh pertamanya yang terdokumentasi di perusahaan AS adalah pilihan IBM atas patennya pada tahun 1946. Pada akhir tahun 1960-an, Zuse mengusulkan konsep Rechnender Raum (bidang berdasar komputasi).Terdapat replika Z3, juga Z4, di Deutsches Museum, München.
  Deutsches Technikmuseum Berlin memiliki pameran yang dipersembahkan bagi Zuse, menampilkan 12 mesinnya, termasuk replika Z1, beberapa dokumen asli, termasuk spesifikasi Plankalkul, dan beberapa gambar karya Zuse.
PELAJAR DAN MORAL BANGSA

PELAJAR DAN MORAL BANGSA

 

By : Muhammad Adnan


KARTIKA NEWS - Pelajar menempati posisi penting dalam pembangunan bangsa. Menjadi kader bermoral pancasila merupakan salah satu hasil yang dinanti oleh masyarakat Indonesia dari peran para pelajar. Dalam menjalankan tugasnya, tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi oleh pelajar. Tantangan yang dimaksud yaitu tantangan yang dinamis, tantangan yang setiap saat bisa berubah sesuai dinamika
zaman.
Pada era orde lama, tantangan pelajar dan perjuangannya masih belum lepas dari era perjuangan 1945 yang erat kaitannya dengan perang melawan kolonialisme dan imperialisme secara fisik.  

Berbeda dengan era orde lama, tantangan kaum pelajar pada orde baru salah satunya disibukkan dengan cita-cita untuk merealisasikan revolusi demokrasi yang kemudian disebut reformasi.

Tantangan setiap zaman pasti berbeda, begitu juga bagi pelajar pada era reformasi pasti berbeda dengan masa-masa sebelumnya.

MORAL BANGSA

Itulah harga diri yang dipertaruhkan para pelajar era reformasi Indonesia. Moral yang menjadi jati diri bangsa Indonesia adalah penentu keberhasilan kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu hasil pemikiran cemerlang yang didasari moral adalah dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Namun dalam perkembangannya, nilai moral yang terkandung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia mulai ada pergeseran. Munculnya budaya yang tidak sesuai dengan keabsahan nilai moral bangsa menjadi penyumbang hilangnya nilai moral bangsa Indonesia. Tawuran pelajar, saling mencontek dalam ulangan, tidak menaati peraturan dan tidak mempunyai cita-cita untuk kemajuan bangsa menjadi contoh bergesernya nilai moral bangsa Indonesia di lingkungan pelajar.

JUJUR

Ada indikasi pergeseran sifat jujur pada diri para pelajar di negeri ini. Istilah yang sangat memprihatinkan ketika tidak sedikit pelajar di Indonesia yang beranggapan Jujur Ajur. Pendapat Jujur Ajur berarti jujur itu akan mencelakakan kita dimasa depan. Artinya pelajar yang masih menganggap pendapat tersebut benar, mereka tidak mempercayai kekuatan batin atau hati nurani yang pada dasarnya adalah petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.

Pergeseran nilai kejujuran bisa kita lihat ketika para pelajar mengikuti ujian. Dari data Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan bahwa dalam ujian nasional tahun 2015 tingkat SMA belum 100 persen pelajar peserta ujian mengedepankan nilai kejujuran. Mereka masih erat dengan prinsip Jujur Ajur, berpendapat nilai bagus lebih baik dari pada kejujuran. Sehingga mereka membenarkan semua cara yang mereka lakukan untuk mendapatkan nilai bagus walaupun dengan cara yang dilarang sekalipun, misalnya dengan cara mencontek pekerjaan teman.

DAPAT DIPERCAYA

Sebuah tanggung jawab timbul ketika seseorang mendapat kepercayaan dari orang lain, tetapi tidak semua orang bisa mempertanggungjawabkannya. Dikalangan pelajar masih banyak terjadi penyelewengan tanggung jawab yang seharusnya tidak dilakukan. Hal tersebut mendorong bergesernya nilai moral pada seseorang yaitu sifat dapat dipercaya. 

Dari analisis yang dilakukan oleh penulis, masih banyak pelajar yang menyalahgunakan jam pelajaran sekolah untuk kepentingan pribadi, bahkan kepentingan yang dapat merugikan bangsa. Membolos sekolah untuk bermain game, pacaran, dan tawuran merupakan contoh masih adanya pelajar yang belum dapat dipercaya.

BERKELANJUTAN

Prinsip kehidupan terasa tidak ada artinya ketika seseorang tidak mempuyai prinsip yang berkelanjutan. Prinsip ini yang kemudian kita katakan prinsip istiqomah. Sebuah kejujuran dan dapat dipercaya tidak akan ada artinya apabila tidak didasari prinsip berkelanjutan. Sehingga banyak orang yang menyatakan Seng Penting Istiqomah (yang pasti berkelanjutan).

KESIMPULAN

Perkembangan bangsa tidak bisa dilepaskan dengan kesuksesan pelajar dalam menghadapi tantangannya. Salah satu tantangan yang belum terselesaikan bagi pelajar saat ini adalah masalah moral. Banyak terjadi penyelewengan yang tidak sesuai dengan nilai moral bangsa pada kalangan pelajar. Kejujuran, dapat dipercaya dan berkelanjutan menjadi tantangan terbesar yang harus kita wujudkan bersama. Dengan optimis didasari nilai luhur semangat Pancasila, kita harus bisa mewujudkan Pelajar Yang Peduli Dengan Moral Bangsa.
Rindu Oksigen

Rindu Oksigen

  
By: Nafi Ali Alawi
KARTIKA NEWS - Selimut asap menyambut pagiku, pagi yang di penuhi asap yang mematikan. Asap itu diciptakan oleh si jago merah yang hingga sekarang telah menyebar menutupi kota ini. Asap ini sudah menyatu dengan hidupku yang disertai jeritan rakyat yang meminta penguasa untuk turun tangan menangani si jago merah yang meraja lela melahap ladang dan hutan kami.

Dulunya kotaku adalah kota yang bebas dari asap, asap kendaraan maupun asap industri rumah tangga, tapi takdir tak bisa di pungkiri, seorang bertopeng hitam telah melepas jago merah begitu saja  di tengah rumput yang gersang dan daun daun yang kering demi kepentingan pribadinya. Aku tak menyangka perestiwa ini akan terjadi, sehingga pasukan penyakit pernafasan menyebar di kota ini .

Pupil mataku menangkap tajam seorang lelaki putih beseragam oren yang sedang melihat gumpalan api dan asap yang sedang memakan dan menutupi lading hutan ini, "gila masak udah menyebar sampai secepat ini...? kalau di biarkan ini bisa gawat, memang benar kata orang tua dulu, bila kecil jadi kawan, kalau besar jadi musuh!! aku harus segera pergi ke markas untuk memberi tahu kepeda komandan". ujar relawan itu saat berdiri melihat peristiwa ini dengan terheran heran. Lalu relawan itu langsung melesat pergi dengan motornya seperti kilauan kilat.

Namaku sohib, aku adalah salah satu dari ribuan korban PENYAKIT ISFA akibat ulah kelompok bertopeng hitam yang melepaskan si jago merah di hutan dan ladang. Kedua teman ku juga menjadi korban penyakit isfa ini, mereka bernama Sufron dan Aryan.

Aku pun tak diam diri melihat hutan plasma nutfan kami di mangsa jago merah. Aku, Sufron dan Aryan mencoba mendekati si jago merah untuk mematikan si jago merah itu dengan daun daun di sekitar. Setelah setegah jam kami melakukan pertolongan pertama pada hutan plasma nutfah ini, tapi apa daya yang kami lakukan dengan tangan tangan mungil ini .Walaupun usaha kami tak berhasil, tapi kami tak kan putus asa untuk membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini.

Matahari pun mulai turun dari singa sananya, menandakan bahwa hari sudah mulai petang. Aku, Sufron dan Aryan meningalkan hutan plasma nutfah ini dan pulang ke istana masing masing. Kami pulang bersama tapi sesampainya di pertigaan kami pun berpisah karena rumah Sufron dan Aryan lumayan jauh dari rumahku sehingga kami harus berpisah disini.

"Ron , Yan jangan lupa besok pagi kumpul di sini lagi untuk menjalankan misi menyelamatkan hutan plasma nutfah kita".

"Oke" jawab Sufron dan Aryan dengan suara lemas.

Aku pun pulang ke rumah dengan membawa rasa letih dan bau asap yang menempel pada badan ini. Sesampainya di rumah aku pun langsung membersihkan rasa letih dan bau asap ini dengan mandi. Setelah selesai mandi aku pun duduk di kursi ruang tamu dan melihat dari layar kaca tv tua, pemerintah sedang mengoceh membicarakan perestiwa yang sedang menimpa kota kami ini. "Kami akan membantu masyarakat dalam mengatasi masalah kabut asap ini, kami akan kerahkan TNI ,POLRI, SAR dan kami juga akan menyemprotkan air dari langit untuk memadamkan titik api yang sulit di padamkan, dengan mengunakan  helikopter". Ujar pemerintah dengan wibawanya di depan wartawan.

Tapi aku tak percaya atas ocehan pemerintah itu untuk memadamkan api yang meraja lela di hutan dan ladang kami, buktinya sampai sekarang masalah si jago merah dan kabut asap ini belum bisa teratasi bahkan malah semakin banyak titik api yang ada.

Pagi pun datang, aku pergi menuju pertigaan untuk berkumpul bersama dua temanku untuk membahas misi kami dalam membantu pemerintah mengatasi kabut asap ini. Setelah aku menunggu satu jam, Sufron dan Aryan pun tak kunjung datang. Ketika aku ingin beranjak pulang karena kukira Sufron dan Aryan tak datang, muncullah Aryan dengan berlari lari menuju ke arah ku.

"Hib hib hib" .

"Ada apa kok kamu lari lari yan".

"Gawat!!".

"Apanya yang gawat??!!".

"Itu Sufron kena penyakit peradangan pernafasan dan di bawa ke rumah sakit "

"Apa???????". Jawab ku dengan kaget.

Aku dan Aryan pun langsung pergi ke rumah sakit tempat Sufron di rawat. Ketika sampai di rumah sakit aku langsung bertanya kepada suster yang ada di tempat administrasi.

"Sus sus, saya mau tanya dimana kamar tempat Ahmad Sufron di rawat".

"Adik ini siapanya".

" Saya temannya ".

"Oh, tuggu sebentar. Nomer kamarnya 13 tapi jangan brisik ketika disana".

"Baik sus, terima kasih".

"Sama-sama".

Ketika sudah tahu nomer kamar tempat sufron di rawat aku dan Aryan langsung berlari mencari kamar tersebut, sesampainya di ujung lorong terlihat orang tua Sufron yang sedang menangis.

"Hib itu orang tua Sufron mungkin itu kamar tempat Sufron dirawat".

"Iya itu orang tua Sufron, tapi kok aneh ya malah mereka menangis". ujar ku kepada Aryan dengan seribu kata pertanyaan di otak ku melihat orang tua Sufron menangis.

Dalam hatiku timbul perasaan tidak enak pada kondisi Sufron, ketika sampai di tempat orang tua Sufron duduk ternyata lensa mataku membaca huruf di atas pintu yang bertuliskan "KAMAR JENAZAH". Pada saat itu hatiku bertanya tanya siapa yang ada di dalam kamar jenazah itu. Aku pun bertanya kepada orang tua Sufron .

"Pak pak!! siapa yang ada di dalam kamar jenazah tersebut".

"Di dalam adalah Sufron yang sudah tak bernyawa". jawab Ayah Sufron dengan air mata yang menghiasi pipinya.

Ketika mendengar berita dari mulut Ayah Sufron bila anaknya sudah meninggal, Aryan pun langsung pingsan dan aku pun langsung gemetar dan lemas, kemudian mataku langsung mengeluarkan air mata kesedihan. Aku pun masuk ke kamar jenazah untuk melihat tubuh kawan kami yang sudah tiada.

Setelah Aryan sudah sadar dari pingsannya aku mengajak Aryan untuk pulang. Kami pulang dengan membawa rasa kesedihan di hati kami yang kehilangan kawan terbaik kami, saat aku dan Aryan  berjalan menuju rumah, kami melihat  bendera kuning di depan rumah pak mustar, aku pun bertanya kepada orang yang baru saja dari dalam rumah pak mustar.

"Bu siapa yang meninggal .??"

"Anak nya pak mustar yang baru berumur 28 hari".

"Kenapa kok bisa meninggal??".

"Kata dokter yang memeriksa anak pak mustar, dikarenakan banyak menghirup asap".

Apakah pemerintah akan diam diri melihat rakyatnya mati satu persatu, mau berapa banyak lagi nyawa yang akan di rampok olah asap ini .

Pemerintah hanya bisa ngomong dibalik layar kaca bahwa dirinya akan menyelamatkan nyawa- nyawa ini yang sedang diserang olah pedang, tombak, meriam, panah dari asap yang mampu membunuh secara brutal.

Hari demi hari asap yang mengepung kota ini tak kunjung berkurang malah makin tebal, jarak pandang makin menipis karena terhalang asap sialan ini. Setiap harinya korban dari kabut asap ini semakin bertambah, banyak orang yang terserang penyakit isfa dan ada juga yang sampai ujung maut. Kenapa pemerintah bisa tenang melihat rakyatnya yang sedang diterjang mara bahaya ini.

Banyak keluhan keluhan masyarakat yang sering kulihat di jalanan berupa poster, media sosial dan televisi, beberapa usaha sudah kami lakukan salah satunya yaitu solat minta hujan tapi usaha tersebut  belum membuahkan hasil. Ada poster yang aku lihat di jalan hasil karya suara keluhan- keluhan tersebut yaitu, "kami ingin paru paru kami diisi dengan udara bersih bukan asap yang AKAN merengut nyawa kami".

" kami kangen oksigen kami bosan dengan asap ini".

"Selamatkanlah nyawa nyawa yang terancam ini"

Itulah keluhan-keluhan masyarakat yang ditujukan kepada pemerintah, bukan hanya omongan saja tapi juga harus dibuktikan. Semua tindakan pemerintahpun tak membuahkan hasil  sedikitpun. Kecuali Allah yang berkehendak menyudahi ujian ini dengan menurunkan hujan dari kayangan untuk meredakan emosi si jago merah ini. Semoga Allah memberi anugerah supaya masalah ini cepat reda amin.

#SaveRiau